Sabtu 2 Mei 2026, SMP Bilingual Terpadu Krian menggelar apel bersama yang diikuti oleh seluruh santri dan dewan guru. Kegiatan ini berlangsung khidmat di lapangan sejak pukul 06.30 WIB untuk menjadi refleksi bersama akan makna pendidikan sebagai jalan membangun peradaban dan karakter generasi.

Hadir sebagai pembicara utama, pengasuh Pesantren Modern Al Amanah Junwangi, KH. Nurkholis Misbah yang menyampaikan pesan yang sangat mendalam tentang kecerdasan spiritual dalam kehidupan. Beliau menegaskan bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang selalu bertanya dalam dirinya, “Apa yang Allah sedang lakukan terhadap saya hari ini?”. Kita sebagai manusia hanyalah objek, di mana setiap aktivitas dan langkah kita tidak pernah lepas dari bimbingan serta maunah (pertolongan) Allah. Oleh karena itu, kita tidak sekadar hidup dari detik ke detik tanpa arah, melainkan harus berusaha memberi makna pada setiap waktu yang kita jalani. Menyadari kehadiran Allah dalam setiap hembusan napas akan mengubah cara pandang kita terhadap rutinitas sehari-hari, sehingga hidup menjadi lebih terarah dan bernilai di hadapan-Nya.

Dalam menjalani kehidupan yang bermakna, terdapat dua parameter utama yang harus kita pegang teguh. Pertama, bagaimana kita meletakkan Allah di dalam hati, cara berpikir, dan setiap langkah kehidupan kita dengan selalu bertanya apakah suatu tindakan diridhai oleh-Nya, bukan sekadar mengikuti naluri atau arus. Kedua, menyadari di mana Allah menempatkan kita saat ini melalui aktivitas dan kedudukan kita, yang merupakan anugerah luar biasa untuk melatih ketaatan. Jika seseorang tidak mengetahui apa yang paling penting dalam hidupnya, ia akan merasa lelah dan bingung menentukan arah, padahal fokus utamanya adalah menjalankan perintah Allah dan mengharap ridha-Nya semata.
Di samping itu, lingkungan dan energi kebaikan memainkan peran penting dalam membentuk pribadi yang tangguh. Energi positif akan senantiasa mendekat kepada orang-orang yang memiliki niat baik dan tujuan yang lurus, sehingga jalan kemudahan akan terbuka. Sesuatu yang sering kita anggap sebagai kebetulan, padahal itu adalah wujud dari bekerjanya energi kebaikan. Hal ini sejalan dengan prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, yang membuktikan bahwa orang-orang besar sering kali lahir dari kesederhanaan dan kemampuan beradaptasi serta hidup selaras dengan lingkungannya.
Sebagai penutup, seluruh proses pembelajaran dan pemaknaan hidup ini tidak lepas dari peran pendidikan yang mampu menumbuhkan semangat survive atau ketangguhan untuk menuju kesuksesan.
Apel ini tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen seluruh civitas akademika dalam menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkarakter, dan berorientasi masa depan. Semangat Hari Pendidikan Nasional diharapkan terus hidup dalam setiap langkah pembelajaran, membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berdaya saing global sesuai dengan tema nasional. Yakni menguatkan partisipasi semesta mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.