Dalam upaya terus menumbuhkan ekosistem literasi yang kuat di lingkungan sekolah, SMP Bilingual Terpadu kembali menghadirkan terobosan edukatif melalui Lomba Pojok Baca Kelas. Kegiatan ini memantik antusiasme luar biasa berkat kolaborasi erat antara para siswa dan Murobbi—sebutan akrab bagi wali kelas di institusi yang berada di bawah naungan Pesantren Modern Al-Amanah tersebut.



Kompetisi ini secara khusus diikuti oleh seluruh peserta didik kelas 7 dan 8. Ruang gerak kreativitas sepenuhnya diserahkan kepada adik-adik kelas ini, menyusul selesainya masa pendidikan kelas 9 yang telah melangsungkan wisuda dan prosesi perpulangan. Absennya kakak kelas tingkat akhir rupanya tidak menyurutkan kompetisi, justru memacu setiap kelas untuk membuktikan siapa yang mampu menciptakan ruang literasi paling inspiratif.



Sebagai sebuah institusi pendidikan, SMP Bilingual Terpadu menyusun kriteria lomba yang tidak hanya bertumpu pada unsur estetika, tetapi juga pada edukasi manajemen informasi. Terdapat beberapa indikator penilaian utama yang menuntut kerja tim yang matang. Pertama, kelengkapan ragam koleksi buku. Kedua, tingkat klasifikasi buku—sebuah kriteria yang secara langsung mengedukasi siswa tentang dasar-dasar tata kelola perpustakaan agar bahan bacaan mudah diakses.



Ketiga, kreativitas hiasan pojok baca yang menjadi ruang ekspresi bagi identitas masing-masing kelas. Terakhir, keempat, adalah kerapian dan tata letak pemasangan poster edukasi yang didistribusikan oleh panitia. Penempatan poster ini melatih kepekaan tata ruang dan komunikasi visual para siswa.
Keterlibatan aktif para Murobbi menjadi kunci keberhasilan program ini. Mereka hadir bukan sekadar sebagai pengawas, melainkan sebagai fasilitator yang turun tangan membantu merancang dan mengeksekusi ide bersama para siswa. Sinergi antara guru dan murid ini berhasil mengubah sudut-sudut kelas yang kaku menjadi oase ilmu yang hangat dan mengundang rasa ingin tahu.
Melalui inisiatif Lomba Pojok Baca ini, kebiasaan membaca di SMP Bilingual Terpadu diharapkan tidak lagi dipandang sebagai rutinitas akademis semata, melainkan tumbuh menjadi budaya dan gaya hidup komunal yang melekat kuat pada keseharian para siswa.