Agustus 2026 menjadi momen pembelajaran kepemimpinan yang penuh dinamika di SMP Bilingual Terpadu. Ajang pemilihan ketua dan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) menjadi sorotan utama karena diyakini sebagai salah satu penentu keberhasilan pembentukan karakter dan profil kelulusan siswa. Suasana pesta demokrasi ini terasa istimewa ketika seluruh siswa kelas VIII antusias mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS. Antusiasme ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pihak sekolah, menandakan tumbuhnya kesadaran diri para siswa untuk belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab layaknya seorang pemimpin yang adil.


Para calon pengurus OSIS harus melewati serangkaian tahapan yang ketat mulai dari tes kecakapan dan kemampuan teoritis, penyampaian visi dan misi saat kampanye, hingga ajang debat pendapat untuk menguji kemampuan berpikir kritis (critical thinking) serta berorasi di depan publik (public speaking). Puncaknya, proses pemungutan suara yang melibatkan seluruh warga sekolah menjadi pembelajaran nyata tentang nilai tanggung jawab dalam mengelola sebuah miniatur negara yang berkeadilan dan sejahtera.

Pemimpin pada dasarnya tidak dibentuk ketika ia sudah memegang jabatan, melainkan ketika ia diberi kesempatan belajar memikul tanggung jawab secara langsung. Salah satu keyakinan yang terus saya pegang selama memimpin sekolah adalah bahwa kepemimpinan tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah di depan kelas. Belajar memimpin sebelum memiliki jabatan harus dialami secara emosional dan intelektual. Seorang anak tidak akan memahami arti tanggung jawab hanya dengan mendengar nasihat, sebagaimana ia tidak akan bisa berenang jika hanya membaca buku panduan.

Atas dasar itulah, saya memandang OSIS bukan sekadar organisasi pelengkap dalam struktur sekolah, melainkan sebuah laboratorium kepemimpinan. Di sanalah peserta didik belajar mengambil keputusan, bekerja sama, menghadapi perbedaan pendapat, mengelola konflik, hingga merasakan konsekuensi nyata dari setiap amanah yang diterimanya. Dalam lingkungan sekolah berbasis pesantren, pandangan ini terasa semakin kuat. Kami meyakini bahwa setiap peserta didik adalah calon pemimpin. Sabda Rasulullah ﷺ menjadi fondasi utama yang selalu kami tanamkan, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, sebelum mampu memimpin orang lain, seseorang harus terlebih dahulu belajar memimpin dirinya sendiri. Oleh sebab itu, keberadaan OSIS tidak dimaksudkan untuk melahirkan kelompok elite di kalangan siswa, melainkan menjadi ruang belajar yang menginspirasi seluruh peserta didik agar berani mengambil tanggung jawab. Dalam banyak kesempatan, saya melihat bahwa keberhasilan seseorang memimpin bukan ditentukan oleh kecerdasannya semata, melainkan oleh pengalaman yang pernah membentuknya. Organisasi memberi pengalaman yang tidak dapat digantikan oleh ruang kelas. Di dalam organisasi, seorang peserta didik belajar bahwa sebuah program tidak akan berjalan hanya karena memiliki ide yang bagus. Ia harus mampu mengajak orang lain bekerja sama, menyelesaikan konflik, menghargai perbedaan, mengatur waktu, bahkan menerima kritik ketika hasil kerjanya belum sesuai harapan.
Saya juga menyadari bahwa jabatan sering kali membuat seseorang terlihat sebagai pemimpin, padahal ia belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan. Sebaliknya, banyak anak yang tidak memegang jabatan formal, tetapi memiliki pengaruh positif yang kuat karena integritas, kedisiplinan, dan keteladanannya. Karena itu, tujuan utama pembinaan OSIS bukanlah menghasilkan seorang ketua OSIS yang hebat semata, melainkan melahirkan generasi yang siap menjadi pemimpin di mana pun mereka berada.
Secara teoritis, David Kolb (1984) melalui Experiential Learning Theory menjelaskan bahwa pembelajaran paling efektif terjadi ketika seseorang mengalami sendiri suatu proses, merefleksikannya, memahami konsepnya, lalu mencobanya kembali dalam situasi baru. Prinsip inilah yang menjadi dasar pembinaan organisasi siswa. Kepemimpinan tidak cukup dipahami sebagai teori, tetapi harus dialami melalui pengalaman nyata. Thomas Lickona (1991) juga menegaskan bahwa pendidikan karakter harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Karakter tidak tumbuh karena ceramah, tetapi karena pembiasaan dan pengalaman yang berulang. Dalam perspektif pendidikan Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, organisasi siswa menjadi media untuk melatih sifat amanah, disiplin, kerja sama, dan jiwa pelayanan kepada sesama.
Melalui proses pemilihan yang dirancang menyerupai pemilihan umum tersebut, peserta didik belajar tentang demokrasi, komunikasi publik, etika berkompetisi, menghargai pilihan orang lain, serta menerima kemenangan maupun kekalahan secara dewasa. Organisasi akhirnya menjadi ruang belajar kewargaan (civic education) yang berlangsung nyata. Sering kali peserta didik memandang jabatan sebagai bentuk penghargaan. Padahal dalam kepemimpinan, jabatan sesungguhnya adalah amanah untuk melayani. Setiap pengurus diberi tanggung jawab sesuai bidangnya mulai dari kebersihan, keamanan, perlengkapan, literasi, bahasa, seni, hingga berbagai kegiatan pendukung lainnya. Mereka bukan hanya bertugas menyelenggarakan kegiatan, melainkan dilatih untuk menjadi teladan dalam kedisiplinan, akhlak, serta semangat melayani sesama.